Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Jumat, 27 April 2012

FILSAFAT KEINDAHAN DAN HUBUNGANYA DENGAN MANUSIA


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia pada umumnya senang pada sesuatu yang indah, baik terhadap keindahan alam maupun terhadap keindahan seni. Keindahan alam adalah keharmonisan yang menakjubkan dari hokum-hukum alam, yang dibukakan untuk mereka yang mempunyai kemampuan untuk menerimanya. Sedangkan keindahan seni adalah keindahan buatan atau hasil ciptaan manusia, yaitu buatan seseorang (seniman) yang mempunyai bakat untuk menciptakan sesuatu yang indah.
Rata-rata manusia apabila melihat sesuatu yang indah pasti akan terpesona. Memang benar, tidak semua orang memiliki kepekaan terhadap suatu keindahan. Akan tetapi pada umumnya manusia mempunyai perasaan keindahan.
Keindahan tentang seni telah lama menarik perhatian para ahli atau filosof, sejak zaman plato sampai zaman modern sekarang ini. Teori tentang keindahan seni ini muncul karena mereka menganggap bahwa seni adalah pengetahuan perspektif perasaan yang khusus. Keindahan seni ini juga telah memberikan warna tersendiri dalam sejarah peradaban manusia, oleh karena itu dalam makalah ini akan kami bahas tentang pengertian keindahan, sejarah perkembangan serta hubungan antara manusia dengan keindahan.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian keindahan?
2. Bagaimana sejarah perkembangan Filsafat Keindahan?
3. Bagaimana hubungan manusia dan keindahan?
1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian keindahan.
2. Untuk mengetahui sejarah perkembangan Filsafat Keindahan.
3. Untuk mengetahui hubungan manusia dan keindahan.




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Keindahan
Keindahan merupakan suatu rasa senang seorang yang sedang melihat suatu yang indah. Ada banyak batasan tentang keindahan yang sampai sekarang belum ada kata sepakat tentang definisi keindahan yang obyektif. Mengenai batasan keindahan pada umumnya menurut HabibMustopo dapat digolongkan menjadi 2 kelompok, yaitu:
a. Definisi-definisi yang bertumpu pada obyek (keindahan yang obyektif)
b. Definisi-definisi yang bertumpu pada subyek (keindahan yang subyektif)
Atas dasar kedua pokok penilaian itu, keindahan dapat ditinjau dari makna yang obyektif dan juga dari segi subyektif. Yang dimaksud keindahan obyektif adalah keindahan yang memang pada obyeknya, yang diharuskan menerima sebagaimana mestinya. Sedangkan yang disebut keindahan subyektif adalah keindahan yang biasanya ditinjau dari segi subyek yang diharuskan menghayatinya.
Dalam hal ini keindahan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan rasa senang pada diri si penghayat tanpa diiringi keinginan-keinginan terhadap segala sesuatu yang praktis untuk kebutuhan-kebutuhan pribadi.
Jadi keindahan itu adalah kesatuan hubungan-hubungan formal daripada pengamatan yang dapat menimbulkan rasa senang. Atau keindahan itu merangsang timbulnya rasa senang tanpa pamrih pada subyek yang melihatnya, dan bertumpu kepada cirri-ciri yang terdapat pada obyek yang sesuai dengan rasa senang.]
Menurut gambar di atas, dapat disimpulkan bahwa keindahan itu melalui 4 proses, yakni: pertama, adanya obyek yang dapat dinikmati oleh subyek. Kedua, panca indera merupakan penangkapan gambaran obyek, ini tidak hanya dilakukan oleh mata akan tetapi bisa dilakukan semua indera. Ketiga, kemudian gambaran tersebut diproses dalam pikiran manusia. Keempat, jadilah rasa suka dan munculah keindahan.



Banyak batasan tentang keindahan yang telah diutarakan oleh para ahli, antara lain:
1. Menurut Leo Tolstoy (Rusia)
Dalam bahasa Rusia terdapat istilah yang serupa dengan keindahan yaitu “krasota”, artinya suatu yang mendatangkan rasa yang menyenangkan bagi yang melihat dengan mata. Bangsa Rusia tidak memiliki pengertian keindahan untuk music. Bagi bangsa Rusia yang indah hanya yang dapat dilihat mata.
2. Menurut Alexander Baumgarten (Jerman)
Keindahan itu dipandang sebagai keseluruhan yang merupakan susunan yang teratur daripada bagian-bagian, yang bagian-bagian itu erat hubungannya satu dengan yang lain, juga dengan keseluruhan.
3. Menurut Winchelman
Keindahan itu dapat terlepas sama sekali dari pada kebaikan.
4. Menurut Humo (Inggris)
Keindahan adalah suatu yang dapat mendatangkan rasa senang.
5. Menurut Hemsterhuis (Belanda)
Yang indah adalah yang paling banyak mendatangkan rasa senang dan itu adalah yang dalam waktu sesingkat-singkatnya paling banyak memberikan pengamatan-pengamatan yang menyenangkan itu.
6. Menurut Emnanuel Kant
Meninjau keindahan dari 2 segi, pertama dari segi arti yang subyektif dan kedua dari segi arti yang obyektif.
a. Subyektif
Keindahan adalah sesuatu yang tanpa direnungkan dan tanpa sangkut paut dengan kegunaan praktis, tetapi mendatangkan rasa senang pada si penghayat.
b. Obyektif
Keserasian dari suatu obyek terhadap tujuan yang dikandungnya, sejauh obyek ini tidak ditinjau dari segi gunanya.
7. Menurut Al-Ghazali
Keindahan suatu benda terletak di dalam perwujudan dari kesempurnaan, yang dapat dikenali kembali dan sesuai dengan sifat benda itu. Disamping lima rasa(panca indera) untuk mengungkapkan keindahan di atas, Al Ghozali juga menambahkan rasa ke enam, yang disebutnya dengan jiwa(ruh, yang disebut juga sebagai spirit, jantung, pemikiran, cahaya), yang dapat merasakan keindahan dalam dunia yang lebih dalam yaitu nilai-nilai spiritual, moral dan agama.
2.2 Sejarah Perkembangan Filsafat Keindahan
Untuk mempermudah pembagian sejarah perkembangan filsafat keindahan ini, maka akan dibagi menjadi 3 periode, yakni zaman yunani kuno, zaman tiga agama monoethis, zaman modern. Adapun keterangannya sebagai berikut:
1. Zaman Yunani Kuno
Plato adalah filsuf pertama di dunia Barat yang dalam seluruh karyanya mengemukakan pandangan yang meliputi hampir semua pokok estetika, yang dibahas sepanjang sejarah filsafat sampai dewasa ini. Pandangan Plato tentang keindahan dapat dibagi menjadi dua, yang satu mengingatkan kita kepada seluruh filsafatnya tentang dunia ide, sedangkan yang lain nampaknya lebih membatasi diri pada dunia yang nyata ini.
Pandangan yang pertama, yang indah adalah benda material, umpamanya tubuh manusia yang tampak pada saya. Selanjutnya saya melihat beberapa seseorang seperti itu, pengalaman keindahan akan meningkat. Ide merupakan sumber segala keindahan.
Pandangan kedua, bahwa yang indah dan sumber segala keindaha adalah yang paling sederhana, umpamanya nada yang sederhana, warna yang sederhana. Yang dimaksud dengan sederhana ialah bentuk dan ukuran yang tidak dapat diberi batasan lebih lanjut berdasarkan sesuatu yang lebih sederhana lagi.
Sebagai murid Plato, aristoteles mengemukakan beberapa pandangan yang mirip dengan pandangan gurunya, tetapi dari sudut pandang yang sangat berbeda. Sudut pandang yang berbeda ini timbul karena Aristoteles menolak ide-ide Plato sebagai sumber pengetahuan dan adanya pengetahuan. Dia berpendapat bahwa keindahan menyangkut keseimbangan dan keteraturan ukuran yakni material. Pandangan ini menurut Aristoteles berlaku untuk benda-benda alam maupun untuk karya seni buatan manusia.
2. zaman tiga agama monotheis
Tiga agama monotheis, Yahudi,Kristiani, dan Islam, yang ketiga-tiganya berasal dari wilayah yang sekarang diberi nama Timur Tengah , sejak awal menekankan keluhuran Allah yang Maha Agung dan tak terjangkau. Sebagai implikasi dari penekanan ini, ketiganya dengan tegas menolak penyembahan berhala dalam bentuk apapun.
Kendati kesamaan itu cukup mencolok, ada perbedaan yang juga tidak sedikit, yang dapat diterangkan dalam konteks peristiwa historis. Ciri-ciri kesamaan maupun perbedaan juga menampakkan diri dalam sikap penghargaan terhadap seni dan karya seni. Dan secara lebih umum tampak dalam sikap terhadap keindahan.
Dalam tradisi bangsa yahudi, baik Abraham maupun Musa dan par5a nabi sesudahnya dipandang sebagai utusan Tuhan yang menjunjung tinggi iman. Bangsa Yahudi menghancurkan segala berhala. Dalam kerangka itu semua patung dan gambar manusia maupun hewan dilarang demi mempertahankan kemurnian iman. Salah satu akibat kenyataan di atas ialah bahwa seni rupa tidak banyak berkembang walaupun ada perhiasan tempat-tempat suci, kaligrafi, keindahan pakaian, selain itu, tentu ada mazmur, music, nyanyian dan tarian.
Di sisi lain, umat kristiani mengimplikasikan kegiatan ibadahnya tidah hanya berdoa akan tetapi melalui perantara gambar dan patung, sehingga pada masa ini banyak pembuat patung, lukisan tentang kehidupan mereka. Serta banyak hiasan dinding yang ada pada gereja dan masih banyak seni lainnya.
Sedangkan Islam juga melarang adanya patung dan gambar, walaupun demikian, pada masa ini kegiatan kesenian mengalami kemajuan yang sangat pesat. Seperti dalam bidang arsitektur masjid, istana serta benteng pertahanan. Selain itu, seni music dan tari juga berkembang pesat.
3. zaman modern
Pada zaman modern ini, filsafat dari aristoteles dan tokoh yunani lain mulai digali kembali. Yang kemudian dikembangkan menjadi suatu peradaban dengan keindahan. Mulai bermunculan para ahli di bidang kesenian, mulai seni musik sampai seni arsitektur. Pada zaman ini para seniman dan masyarakat mulai kritis terhadap suatu seni. Mereka dapat membedakan secara terperinci seni itu baik atau tidak.
2.3 Manusia dan Keindahan
Seperti yang dijelaskan diatas, bahwa manusia akan merasakan keindahan jika menyukai atau menyenangi sesuatu. Akan tetapi, hal ini bisa berdampak baik dan buruk karena tidak bisa ditebak apa yang manusia sukai. Manusia pada hakikatnya menyukai kebaikan akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa manusia juga menyukai keburukan yang termasuk perilaku menyimpang.
Dari uraian diatas maka keindahan dapat dibagi menjadi 2, yakni:
1. keindahan yang berdasarkan pada kebaikan,
keindahan yang berdasarkan kebaikan ini akan menghasilkan sifat yang lebih lanjut yaitu cinta kasih, karena rasa suka yang terus menerus akan menjadi cinta terhadap sesuatu tersebut. Cinta kasih merupakan perasaan suka seseorang terhadap sesuatu, sehingga ia rela mengorbankan dirinya untuk kepentingan sesuatu tersebut. Dilihat dari obyeknya cinta kasih dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Cinta terhadap Allah
Merupakan cinta manusia terhadap sang khaliq (pencipta), dengan adanya rasa cinta ini manusia akan lebih taat dan beriman kepada Allah. Sehingga mereka akan cenderung beribadah dan meninggalkan sesuatu yang berbau duniawi.
b. Cinta terhadap Manusia
Merupakan suatu cinta antara manusia satu dengan yang lainnya. Cinta ini bisa berdasarkan karena adanya ikatan keluarga seperti: cinta orang tua terhadap anak, bisa juga berdasarkan kasih saying terhadap pasangan karena sudah menjadi kodrat manusia bahwa mereka diciptakan berpasang-pasangan. Cinta disini timbul karena adanya rasa senang dan kebiasaan sang pelaku, seperti contoh: cintanya suami dan istri.
c. Cinta terhadap alam
Cinta terhadap alam ini juga bisa dikatakan cinta terhadap dunia. Cinta ini timbul karena rasa senang seseorang ketika melihat suatu benda. Contohnya kecintaan manusia terhadap harta benda (uang, emas, perhiasan dll), cinta terhadap dunia ini dapat menyebabkan manusia akan melupakan Tuhan mereka karena pikiran mereka telah terpengaruhi akan kehidupan dunia.
Akan tetapi disisi lain cinta terhadap ala mini juga dapat mempertebal iman seseorang, seperti: saat kita melihat kekuasaan Allah di alam ini (keindahan laut, pegunungan dll) maka orang tersebut akan senantiasa mengingat Allah selaku pencipta semua itu.
2. keindahan yang berdasarkan pada keburukan
Keburukan atau kejahatan merupakan sesuatu yang akan merugikan untuk orang lain, walaupun hal ini sangat jarang terjadi karena pada hakekatnya menyukai akan keindahan dan kebaikan. Apabila hal ini terjadi maka akan menciptakan penderitaan dan kegelisahan.
Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sangsekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat berbentuk lahir atau batin, Kita ambil contoh, dictator jerman Adolf Hitler yang sangat menyukai peperangan dan membantai orang-orang yahudi, dia menganggap bahwa yang dilakukan itu benar karena sesuai dengan kesenangannya.
Sumber-sumber penderitaan antara lain: Hakekat Manusia, manusia pada hakikatnya adalah mahluk hidup yang memiliki kepribadian yang tersusun dari perpaduan dan saling hubungan dan pengaruh-mempengaruhi antara unsur-unsur jasmani dan rohani, dan karena itu pendritaan dapat pula terjadi pada tingkat jasmani maupun rohani. Di dalam jasmani manusia terdapat 2 unsur yang selalu berhubungan, yaitu otak dan panca indra.
Rohani yang sering disebut dengan istialah lain seperti jiwa , badan halus, merupakan unsur yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindra manusia. Rohani memiliki alat dan kemampuan yaitu: nafsu , perasaan, pikiran, kemauan.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. keindahan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan rasa senang pada diri si penghayat tanpa diiringi keinginan-keinginan terhadap segala sesuatu yang praktis untuk kebutuhan-kebutuhan pribadi.
2. sejarah perkembangan filsafat keindahan ini, maka akan dibagi menjadi 3 periode, yakni zaman yunani kuno, zaman tiga agama monoethis, zaman modern.
3. bahwa manusia akan merasakan keindahan jika menyukai atau menyenangi sesuatu. Akan tetapi, hal ini bisa berdampak baik dan buruk karena tidak bisa ditebak apa yang manusia sukai. Manusia pada hakikatnya menyukai kebaikan akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa manusia juga menyukai keburukan yang termasuk perilaku menyimpang.


Sabtu, 07 April 2012

KASIH SAYANG



islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang di dalamnya. Dari namanya saja, Islam sudah mengandung unsur kasih sayang. Islam yang merupakan mashdar dari aslama-yuslimu, memiliki arti keselamatan. Dalam Al Quran dan Sunnah banyak disebutkan tentang kasih sayang. Hal ini menunjukkan betapa kasih sayang memiliki peran penting dalam Islam dan sangat dianjurkan untuk diamalkan. Allah berfirman dalam Al Quran:
“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”(QS. At Taubah: 128)
 Dalam sebuah hadits juga disebutkan bahwa Rasulullah saw sendiri memerintahkan ummatnya untuk saling menebarkan kasih sayang, karena niscaya itu akan membuatnya disayang oleh seluruh penduduk bumi dan langit.
 Namun yang sangat disayangkan, bahwa kini konsep kasih sayang itu seakan hilang dan dengan suksesnya dijauhkan dari agama Islam. Padahal, Islam adalah satu-satunya agama yang sangat menjunjung tinggi kasih sayang terhadap sesama. Nabi Muhammad saw bersabda, “ Sesungguhnya kasih sayang itu cabang (penghubung) kepada Allah SWT. Barang siapa yang menyambungnya,maka Allah akan menyambung (kasih sayang-Nya) dengannya. Dan barang siapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutus (kasih sayang-Nya) dengannya.” (HR. Bukhori)
 Maka sudah seharusnya setiap muslim menunjukkan identitasnya dengan menempelkan symbol kasih sayang yang selalu diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Malu rasanya jika melihat aksi-aksi terror yang marak terjadi malah disandarkan kepada beberapa golongan dari umat muslim sendiri, bahkan salah satu bom diledakkan di masjid dan di tengah berkumpulnya umat Islam ketika melaksanakan shalat jumat!
 Jadi, sangatlah penting kembali menanamkan dan memupuk rasa kasih sayang dalam jiwa tiap muslim. Rasa kasih sayang hendaknya diniatkan karena Allah semata. Makna kasih sayang tidaklah berhujung, rasa kasih sayang adalah fithroh, karena pada dasarnya tiap manusia menyukai ketenangan dan kasih sayang dalam kehidupannya. Kalau tidak mengaplikasikan kasih sayang dalam kehidupannya, sudah pasti manusia tidak akan bisa berkembang.
 Mewujudkan kasih sayang bisa dimulai dari sendiri, lalu kemudian menyebarkannya kepada siapa dan apa saja yang ada di sekeliling kita, terutama kepada saudara sesama muslim. Hendaknya rasa kasih sayang itu senantiasa ditunjukkan. Rasulullah saw bersabda, "Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam hal kecintaan, kasih-sayang dan belas kasihan sesama mereka, laksana satu tubuh. Apabila sakit satu anggota dari tubuh tersebut maka akan menjalarlah kesakitan itu pada semua anggota tubuh itu dengan menimbulkan insomnia (tidak boleh tidur) dan demam (panas dingin)." (HR. Muslim)
 Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh dari konsep kasih sayang dalam Islam ini, yang disandarkan dari Rasulullah saw, yang kita ketahui dari ayat yang telah saya sebutkan di awal tulisan ini, bahwa beliau merupakan contoh sosok yang dikirim Allah swt yang memiliki sifat penyayang kepada orang mukmin. Dan ini bukan omong kosong semata.
 Diceritakan pada kejadian Fathul Makkah (pembukaan kota Makkah). Ketika Nabi dan para sahabatnya berhasil kembali membuka kota Makkah pada tanggal 10 ramadlan tahun 8 Hijriyah. Kejadian ini diabadikan dalam Al Quran dan disebut sebagai ‘fathan mubiinaa’ (kemenangan yang nyata). Ketika itu pasukan Islam dari Madinah masuk ke kota Makkah dengan damai dan tanpa peperangan, mereka diizinkan Allah untuk mendapatkan kemenangan besar yang selama ini ditunggu-tunggu. Ketika itu Rasulullah berpidato kepada ribuan tawanan perang.
“...wahai manusia, hari ini bukanlah hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka untuk kembali ke keluarga masing-masing…”
 Pasukan Islam mendengar pidato dari Rasulullah tersebut langsung terkejut. Bagaimana mungkin, perjuangan mereka selama ini, yang taruhannya adalah nyawa, juga diperhinakan cukup lama, namun ketika kemenangan sudah di genggaman tangan, Rasulullah malah membebaskan musuh. Tidak itu saja, bahkan Rasulullah memerintahkan untuk memberikan rampasan perang dan pelbagai harta, juga ribuan onta kepada para tawanan. Sementara itu pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa.
 Para pasukan Islam pun mengeluh dan mengajukan protes kepada Nabi. Lalu mereka dikumpulkan dan ditanya langsung oleh Nabi, “Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku?”
 Spontan mereka menjawab, “Sekian tahun, sekian tahun.”
 Kemudian Nabi melanjutkan pertanyaannya, “Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?” Dan Nabi mengakhiri pertanyaannya, “Kalian memilih mendapatkan unta atau memilih cintaku kepada kalian?”
 Para sahabat pun menangis karena cinta Rasulullah kepada mereka, cinta yang tidak bisa ditandingi oleh bumi dan langit sekalipun.
 Begitulah sobat, bukti nyata dari tingginya rasa kasih sayang Nabi dan penerapannya langsung yang bahkan ditujukan untuk musuhnya yang selama ini telah menghinakan beliau. Namun dari situ Nabi ingin menunjukkan kepada para musuh Islam, bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang. Dan dengan itu, Nabi berharap bisa mengenyuhkan mereka dan berbelok memeluk Islam melihat lembutnya Islam dan ummat muslim.
 Semoga kita terus dilimpahkan ma’unahNya untuk bisa menyebarkan kasih sayang pada siapa dan apa saja di sekeliling kita, tentu dengan niat lillaahi ta’laa. Amiin ya Rabbal’aalamiin.

Wallahu a’lam,
Semoga bermanfaat.

Sabtu, 31 Maret 2012

KEBUDAYAAN BANGSA TIMUR



Kebudayaan Arab

Bertolak dari definisi kebudayaan diatas, maka menurut Penulis bahwa yangdimaksud dengan kebudayaan Arab adalah segala sesuatu yang didapatkan olehmasyarakat arab yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum,adat istiadat serta kebiasaan-kebiasaan lainnya. Kebudayaan arab tersebut dapatterlihat dalam tingkah laku masyarakat arab nya sehingga menjadi khas atau ciri yangmembedakan dengan masyarakat lainnya. Atau bisa juga dikatakan bahwa budayaarab adalah potensi yang ada pada manusia yang akan mencipta dan membuat karyaserta merasa yang didominasi dengan nuansa arab. Salah satu cirinya yang khasadalah penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar dan pergaulan sehari-hari.Kawasan budaya Arab terdiri dari Timur Tengah dan Afrika Utara, yangmeliputi Turki, Iran, Israel, Lebanon, Irak, Yordania, Syiria, Mesir, dan kerajaan-kerajaan yang ada dikawasan Teluk Persia. Juga meliputi Maroko, Al-Jazair, Tunisia,dan Lybia.Untuk lebih memahami kebudayaan arab, maka sebaiknya kita mengetahuikondisi dari arab itu sendiri, baik kondisi wilayahnya maupun masyarakatnya sebelumIslam datang.

1. Kondisi Wilayah Arab Pra Islam
Jazirah Arabia merupakan sambungan dari wilayah gurun yang membentang daribarat Sahara di Afrika hingga timur melintasi Asia, Iran Tengah, dan Gurun Ghobi diCina. Wilayah itu sangat kering dan panas karena uap air laut yang ada disekitarnya(laut Merah, Laut Hindia, dan laut Arab). Tidak memenuhi kebutuhan untuk mendinginkan daratan luas yang berbatu, namun demikian wilayah ini kaya akanbahan perminyakan

Para penulis klasik membagi negeri Arab menjadi 3 bagian; Arab felix, ArabPetra, dan Arab Gurun, didasarkan atas pembagian wilayah itu ke dalam tiga kekuatanpolitik pada abad pertama Masehi, yaitu kawasan yang bebas, kawasan yang tunduk pada penguasa Romawi, dan kawasan yang secara nominal berada pada kendaliPersia. Arab Gurun meliputi gurun pasir Suriah-Mesopotamia (Badiyah). WilayahArab Petra (gunung Batu) berpusar didaratan Sinai dan kerajaan Nabasia, dengan ibukota Petra. Wilayah Arab Felix mencakup bagian lainnya disemenanjung Arab, yangkondisinya tidak banyak diketahui

Secara Geografis, bangsa Arab mayoritas menempati jazirah Arab dan jugadaerah-daerah sekitar jazirah. Jazirah Arab terbagi menjadi dua bagian yaitu bagiantengah dan bagian pasir. Disana, tidak ada sungai yang mengalir tetap, yang adahanya lembah-lembah berair di musim hujan. Sebagian besar jazirah Arab adalahpasir Sahara yang memiliki sifat dan keadaan berbeda-beda, pasir Sahara tersebutdapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

1) Sahara Langit, memanjang 140 mil dari utara ke selatan dan 180 mil dari timur kebarat, disebut juga sahara nufud. Oase dan mata air sangat jarang, tiupan anginseringkali menimbulkan kabut debu yang mengakibatkan daerah ini sulitditempuh

2) Sahara Selatan, yang membentang menyambung Sahara Langit ke arah timursampai selatan Persia. Hampir seluruhnya merupakan daratan keras, tandus, danpasir bergelombang. (bagian yang sepi).

3) Sahara Harrat, suatu daerah yang terdiri dari tanah Hat yang berbatu hitambagaikan terbakar. Gugusan batu-batu itu menyebar di keluasan sahara ini,seluruhnya mencapai 29 buah

Jazirah Arabia merupakan daerah daratan padang rumput yang gersang, yang disela-sela bebatuan yang luas berikut padang pasirnya. Letak wilayah ini di ujung baratdaya Asia, seblah Utara dibatasi oleh daratan Syam, sebelah timur oleh Teluk persiadan laut Oman, sebelah selatan dibatasi oleh Samudera India, sedangkan sebelahbaratnya dibatasi oleh Laut Merah. Udaranya sangat panas-dibanding dengan wilayahtropis- dan rumput-rumput yang tumbuh merupakan sisa-sisa resapan air saat musimdingin dan musim hujan. Padang-padang rumput itu biasanya ditandai oleh oas


Dalam bidang hukum, bangsa Arab ternyata menjadikan adat sebagai sumberhukum dengan berbagai bentuknya. Misalnya dalam hukum perkawinan pada saat itudikenal dengan
 Istibla, poliandri, maqthu’, badal,dan shighar. Laki-laki juga bolehberpoligami dengan jumlah tak terbatas. Dalam hal warisan, anak kecil danperempuan tidak mendapatkan bagian

Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh Dr. Badri Yatim, M.A menjelaskanbahwa peradaban pra Islam merupakan pengaruh dari budaya bangsa-bangsadisekitarnya yang lebih awal maju dari pada kebudayaan dan peradaban Arab.Pengaruh tersebut masuk ke jazirah Arab melalui beberapa jalur; yang terpenting diantaranya adalah:
(1) melalui hubungan perdagangan dengan bangsa lain,
(2) melaluikerajaan-kerajaan protektorat, Hirrah dan Ghassan, dan
(3) masuknya misi Yahudidan Kristen.Melalui jalur perdagangan, bangsa Arab berhubungan dengan bangsa-bangsaSyria, Persia, Habsyi, Mesir (Qibthi), dan Romawi yang semuanya telah mendapatpengaruh dari kebudayaan Hellenisme. Melalui kerajaan-kerajaan protektorat, banyak berdiri koloni-koloni tawanan perang Romawi dan Persia di Ghassan dan Hirrah.Penganut Yahudi juga banyak mendirikan koloni di jazirah Arab, yang terpenting diantaranya adalah Yatsrib. Begitu juga Kristen yang masuk ke jazirah Arab adalahaliran Nestorian di Hirrah dan aliran jacob-barady di Ghassan. Daerah kristen yangterpenting adalah Najran, sebuah daerah yang subur. Kristen tersebut berhubungandengan Habasyah (Ethiopia), negara yang melindungi agama ini. Penganut aliranNestorianlah yang bertindak sebagai penghubung antara kebudayaan Yunani dankebudayaan Arab pada masa awal kebangkitan Islam

.Dari uraian di atas ternyata kita dapat melihat meskipun kondisi sosial Arab saatitu masih cenderung terbelakang, tetapi memiliki peradaban yang tinggi. Hal tersebutkarena masyarakat Arab telah dapat berinteraksi dengan negeri-negeri sekitarnyasehingga dapat saling mempengaruhi.

D. Kebudayaan Islam
Jika dikatakan bahwa kebudayaan itu adalah hasil daya pemikiran dandiaktualisasikan dalam prilaku manusia. Maka, Islam bukanlah kebudayaan. Karen


Islam itu bukan produk manusia. Islam adalah wahyu dari Allah Swt yangdisampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang mengandung ajaran-ajaran danperaturan-peraturan untuk dijadikan panduan dalam kehidupan manusia agar bahagiadi dunia dan di akhirat.Walaupun Islam bukan kebudayaan, tetapi Islam mendorong manusia untuk berkebudayaan. Islam mendorong manusia untuk berfikir, berekonomi, bermuamalah,berpendidikan, dan lain-lain. Dengan kata lain bahwa Islam bukan kebudayaan tetapimendorong, mendidik, dan melahirkan kebudayaan. Misalnya: Allah Swtmemerintahkan untuk mendirikan shalat. Tentu saja, perintah Allah Swt itu bukanlahsebuah kebudayaan karena merupakan wahyu dari Allah Swt. Ketika kita hendak mendirikan shalat, maka kita pun akan melihat apa yang telah dicontohkan RasulullahSaw. Ternyata Rasulullah mencontohkan shalat itu dengan berjamaah,berbaris/bershaf rapi, rapat dan lurus. Shalat tersebut kita dirikan terus menerus.Maka secara tidak langsung Islam mendidik kita untuk hidup berjamaah/bekerjasama,tidak egois, hidup rapi, tertib dan lurus. Dan itu menjadi sebuah kebudayaan yangdiajarkan dalam Islam.Atau contoh lain, ketika Allah Swt melarang kita untuk mendekati zina. Makakita akan berfikir bagaimana caranya, dan hal-hal apa saja yang termasuk kategorizina itu. Selanjutnya kita pun akan mengaktualisasikannya dalam prilaku. Diantaraprilaku yang akan kita jauhi karena termasuk kategori zina adalah pergaulanbebas/ 
ikhtilath
, tidak menjaga pandangan, membuka aurat, dan lain-lain. Maka darisana akan lahir sebuah budaya Islam, yakni menutup aurat,
ghaddul bashar 
, menjagainteraksi, dan lain-lain.Dapat dikatakan secara sederhana bahwa budaya Islam adalah segala sesuatuyang dipraktikkan oleh manusia baik kepercayaan (keimanan), ibadah, bersikap,berkata, berinteraksi/bermuamalah, dan tingkah laku apa saja yang bersumber dariAllah Swt (Al-
Qur’an) dan Rasulullah SAW (Hadits/Sunnah).
Hal ini dapat difahamidemikian karena Islam adalah apa yang telah diterangkan oleh Allah dan Rasul-Nya,sedangkan segala sesuatu yang tidak diterangkan dalam Al-
Qur’an dan Rasul
-Nyadalam perkara agama, maka hal itu bukanlah Islam, walaupun bisa saja perkaratersebut telah menjadi kebiasaan dan populer dikalangan masyarakat Arab ataumasyarakat Islam lainnya. Allah Swt telah berfirman:
“….
 Apa yang diberikan Rasulkepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka  
tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat kerashukuman-Nya

(Qs. Al-Hasyr; 59:7).Atau dapat dikatakan juga bahwa kebudayaan Islam adalah sebagai aktualisasidari nilai-nilai Islam yang tertanam dalam hati seseorang atau masyarakat.Kebudayaan itu disebut sebagai kebudayaan Islam apabila bertolak dari nilai-nilaiIslam. Singkatnya, kebudayaan Islam itu adalah sebuah kebudayaan yang menjadikannilai-nilai Islam sebagai pijakan dalam berbagai kegiatan dalam kurun waktu yangrelatif lama, sehingga menjadi tradisi atau kebiasaan.Ciri khas kebudayaan Islam adalah berasaskan tauhid. Artinya mengesakanAllah Swt. Segala ibadah dan perbuatannya dipersembahkan hanya kepada Allah Swtsaja tidak kepada yang lainnya. Selain itu, budaya Islam memiliki prinsip-prinsipyang tegas, yakni dipagari dengan ketentuan
 Halal-Haram, dan selalu memperhatikan Mashlahat-Mafsadat.




E. Antara Kebudayaan Arab dan Kebudayaan Islam
Ada sebagian kaum muslimin yang beranggapan bahwa budaya Arab adalahbudaya Islam, begitupun sebaliknya. Mungkin mereka beralasan bahwa Islam turun di jazirah Arab, Al-Qu
r’an berbahasa Arab, dan Nabi Muhammad Saw adalah orang
Arab.Pemahaman seperti ini jika dilihat secara sekilas nampaknya seperti benarpadahal sebetulnya salah besar bahkan bisa berakibat fatal. Mereka beranggapanbahwa Arab adalah Islam. Contoh akibat yang fatal dari pemahaman tersebutdiantaranya ada sebuah kasus kekerasan berupa penyiksaan fisik yang dialami olehseorang TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang bekerja di Arab. Tubuh wanita tersebutbanyak luka akibat pukulan, pikirannya tidak ingat lagi dengan orang-orang sekitarkarena seringnya dibenturkan ke dinding oleh majikan, kulitnya melepuh, dan kakinyapun lumpuh tidak bisa berjalan lagi. Dari kasus ini, maka kemudian sebagian orangmenganggap bahwa Islam adalah keras, radikal, dan tidak berprikemanusiaan. Merekaberanggapan seperti itu sebab pelakunya adalah orang Arab, tinggal di Arab,berbahasa Arab, memiliki janggut tebal, memakai baju gamis, dan bersorbanmisalnya.Atau contoh lain, ketika ada kertas yang bertuliskan Arab maka kemudianmenganggap bahwa itu adalah Al-
Qur’an sehingga dianggap suci dan haru dihormati, dan disimpan ditempat yang bersih dan tinggi padahal tidak mengetahuibagaimana content  nya itu.Walhasil
, bahwa Arab tidak sama dengan Islam, sebaliknya Islam tidak samadengan Arab. Begitupun kebudayaan Arab tidak sama dengan kebudayaan Islam.Kebudayaan Arab terbatas kepada hasil cipta, karya, dan rasa dari masyarakat Arabdan diaktualisasikan oleh orang-orang Arab itu sendiri. Berbeda dengan kebudayaanIslam sebagai kebudayaan yang merupakan aktualisasi dari nilai-nilai Islam denganbersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits tidak terbatas pada sebuah zona atau wilayahtertentu dan tidak hanya berlaku untuk masyarakat tertentu saja karena Islam menjadi
rahmatan lil’alamin



KESIMPULAN

Sebelum Islam datang, kondisi Arab berada dalam kegelapan dan kebodohan(
 Jahiliyah Kehidupan mereka jauh dari ketauhidan karena sebagaian besarmasyarakat berada dalam kemusyrikan dengan menyembah berhala. Wanita ibaratbarang bahkan tidak ada harganya. Akhlaknya pun bejat dan rusak.Islam datang di negeri tersebut dibawa oleh seorang rasul yang merupakan asliorang Arab, Nabi Muhammad Saw. Dengan datangnya Islam, maka budaya-budaya jahiliyah itu pun kemudian diluruskan atau dihapus. Masyarakat dibawa kepadaketauhidan beribadah hanya kepada Allah Swt saja. Wanita memiliki kedudukan yangsama dengan laki-laki. Dan akhlak mereka pun menjadi
akhlak karimah Budaya Arab berbeda dengan Budaya Islam. Kebudayaan Arab adalah produk manusia yang bersumber dari manusia juga, sedangkan kebudayaan Islam bersumberdari nilai-nilai Islam berupa Al-
Qur’an dan Al-Hadits. Kebudayaan Arab terbataswilayah dan berlaku untuk orang-orang Arab saja, sedangkan Islam dapatdiaktualisasikan tidak hanya oleh orang Arab saja tetapi untuk semua orangdimanapun berada.Hanya tentu saja, Arab menjadi terangkat dan memiliki kedudukan tersendirikarena Islam turun di jazira Arabia, Al-Qur’an berbahasa Arab, dan Nabi Muhammad
Saw adalah asli orang Arab. Inilah salah satu impact npositif yang diterima Arabdengan kehadiran Islam



Minggu, 18 Maret 2012

ANEKA RAGAM KEBUDAYAAN



LATAR BELAKANG

1. Definisi Budaya

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” d Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina. Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

2. Pengertian Kebudayaan

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

TUJUAN

3. Cara pandang terhadap kebudayaan

3.1 Kebudayaan Sebagai Peradaban

Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan “budaya” yang dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang “budaya” ini merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka menganggap ‘kebudayaan’ sebagai “peradaban” sebagai lawan kata dari “alam”. Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya.
Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan aktivitas yang “elit” seperti misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik klasik, sementara kata berkebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendendapat bahwa musik klasik adalah musik yang “berkelas”, elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah “berkebudayaan”.
Orang yang menggunakan kata “kebudayaan” dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang “berkebudayaan” disebut sebagai orang yang “tidak berkebudayaan”; bukan sebagai orang “dari kebudayaan yang lain.” Orang yang “tidak berkebudayaan” dikatakan lebih “alam,” dan para pengamat seringkali mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk menekan pemikiran “manusia alami” (human nature)
Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu -berkebudayaan dan tidak berkebudayaan- dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman sebagai perkembangan yang merusak dan “tidak alami” yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat dasar manusia. Dalam hal ini, musik tradisional (yang diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja) dianggap mengekspresikan “jalan hidup yang alami” (natural way of life), dan musik klasik sebagai suatu kemunduran dan kemerosotan.
Saat ini kebanyak ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antara kebudayaan dengan alam dan konsep monadik yang pernah berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang sebelumnya dianggap “tidak elit” dan “kebudayaan elit” adalah sama – masing-masing masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan. Pengamat sosial membedakan beberapa kebudayaan sebagai kultur populer (popular culture) atau pop kultur, yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang.

3.2 Kebudayaan sebagai “sudut pandang umum”
Selama Era Romantis, para cendekiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap gerakan nasionalisme – seperti misalnya perjuangan nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan Kekaisaran Austria-Hongaria – mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam “sudut pandang umum”. Pemikiran ini menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-masing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu, gagasan ini masih mengakui adanya pemisahan antara “berkebudayaan” dengan “tidak berkebudayaan” atau kebudayaan “primitif.”
Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan definisi yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan.
Pada tahun 50-an, subkebudayaan – kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dari kebudayaan induknya – mulai dijadikan subyek penelitian oleh para ahli sosiologi. Pada abad ini pula, terjadi popularisasi ide kebudayaan perusahaan – perbedaan dan bakat dalam konteks pekerja organisasi atau tempat bekerja.
3.3 Kebudayaan sebagai Mekanisme Stabilisasi
Teori-teori yang ada saat ini menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalah sebuah produk dari stabilisasi yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaan dan kesadaran bersama dalam suatu masyarakat, atau biasa disebut dengan tribalisme.

4. Penetrasi kebudayaan
Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:

4.1 Penetrasi damai (penetration pasifique)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia. Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.
Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau Sintesis. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India. Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.

4.2 Penetrasi Kekerasan (penetration violante)

Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat. Wujud budaya dunia barat antara lain adalah budaya dari Belanda yang menjajah selama 350 tahun lamanya. Budaya warisan Belanda masih melekat di Indonesia antara lain pada sistem pemerintahan Indonesia.

Kebudayaan, kesenian, bukum, adat istihadat dan setiap kemampuan lain dan kebiasaan yang dimiliki oleh manusia sebagai anggota suatu masyarakat. Misalnya: dari alat-alat yang paling sederhana seperti asesoris perhiasan tangan, leher dan telinga, alat rumah tangga, pakaian, system computer, non materil adalah unsur-unsur yang dimaksudkan dalam konsep norma-norma, nilai-nilai, kepercayaan / keyakinan serta bahasa.
Para kebudayaan sering mengartikan norma sebagai tingkah laku rata-rata, tingkah laku khusus atau yang selalu dilakukan berulang – ulang. Kehidupan manusia sellau ditandai oleh norma sebagai aturan sosial untuk mematok perilaku manusia yang berkaitan dengan kebaikan bertingkah lak, tingkah laku rata-rata atau tingkah laku yang diabstaksikan. Oleh karena itu dalam setiap kebudayaan dikenal norma-norma yang ideal dan norma-norma yang kurang ideal atau norma rata-rata. Norma ideal sangat penting untuk menjelaskan dan memahami tingkah laku tertentu manusia, dan ide tentang norma-norma tersebut sangat mempengaruhi sebagian besar perilaku sosial termasuk perlaku komunikasi manusia.
Nilai adalah konsep-konsep abstrak yang dimiliki oleh setiap individu tentang apa yang dianggap baik atau buruk, benar atau salah, patut atau tidak patut.
Unsur penting kebudayaan berikutnya adalah kepercayaan / keyakinan yang merupakan konsep manusia tentang segala sesuatu di sekelilingnya. Jadi kepercayaan / keyakinan itu menyangkut gagasan manusa tentang individu, orang lain, serta semua aspek yang berkaitan dengan biologi, fisik, sosial, dan dunia supernatural. Unsure penting kebudayaan adalah bahasa, yakni system kodifikasi kode dan symbol baik verbal maupun non verbal, demi keperluan komunikasi manusia.
Definisi kebudayaan di atas seolah bergerak dari suatu kontinum nilai kepercayaan kepada perasaan dan perilaku tertentu. Perilaku tertentu. Perilaku tersebut merupakan model perilaku yang diakui dan diterima oleh pendukung kebudayaan sehingga perilaku itu mewakili norma-norma budaya.
MENURUT PARA AHLI
Kebudayaan dalam Pandangan Sosiologi
Bagaimana para sosiolog mendefinisikan kebudayaan Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari interaksi sosial antar manusia dalam masyaralat mendefinisikan kebudayaan sebagai berikut :
1. Keseluruhan (total) atau pengorganisasian way of life termasuk nilai-nilai, norma-norma, institusi, dan artifak yang dialihkan dari satu generasi kepada generasi berikutnya melalui proses belajar (Dictionary of Modern Sociology).
2. Francis Merill mengatakan bahwa kebudayaan adalah :
• Pola-pola perilaku yang dihasilkan oleh interaksi sosial
• Semua perilaku dan semua produk yang dihasilkan oleh seseorang sebagai anggota suatu masyarakat yang di temukan melalui interaksi simbolis.
3. Bounded et.al (1989), kebudayaan. adalah sesuatu yang terbentuk oleh Pengembangan dah transmisi dari kepercayaan manusia melalui simbol-simbol tertentu, misalnya symbol bahasa sebagai rangkaian simbol. yang digunakan untuk mengalihkan keyakinan budaya di antara para anggota suatu masyarakat. Pesan-pesan tentang kebudayaan yang diharapkan dapat ditemukan di dalam media, pernerintahan, institusi agama, sistem pendidikan dan semacam itu.
4. Mitchell (ed) dalam Dictionary of Soriblogy mengemukakan, kebudayaan adalah sebagian dari perulangan keseluruhan tindakan atau aktivitas manusia (dan produk yang dihasilkan manusia) yang telah memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar dialihkan secara genetikal.

Kebudayaan Dalam Pandangan Antropologi
Bagaimana seorang antropolog mendefinisikan kebudayaan?
1. Berdasarkan. Eri cyclopedia of Sociology, kebudayaan menurut Para antropolog diperkenalkan Pada abad 19. Gagasan ini Pertama. kali muncul di zaman renaisans untuk menggarnbarkan adat istiadat, kepercayaan, bentuk-bentuk sosial, dan bahasa-bahasa Eropa. di masa. silam yang berbeda dengan masa kini. Periode kedua dari kebudayaan terjadi tatkala konsep ini mulai mendapat pengakuan bahwa kini manusia itu berbeda-beda berdasarkan wilayah diatas muka bumi, variasi itu diperkuat oleh bahasa yang mereka gunakan, ritual yang mereka praktekan serta berdasarkan jenis-jenis masyarakat di mana mereka tinggal.
2. Malinowski mengatakart bahwa kebudayaan merupakan kesatuan dari dua aspek fundamental, kesatuan pengorganisasian yaitu tubuh artifak dan sistem adat istiadat.
3. Kebudayaan adalah perilaku yang dipelajari, seorang tidak dapat dilahirkan dengan tanpa kebudayaan, kebudayaan itu bersifat universal, setiap manusia memiliki kebudayaan yang dia peroleh melalui usaha sekurang-kurangnya melalui belajar secara biologis.

Kebudayaan merupakan “jumlah” dari seluruh sikap, adapt istiadat, dan kepercayaan yang membedakan sekelompok orang dengan kelompok lain, kebudayaan ditransmisikan melalui bahasa, objek material, ritual, institusi (milsanya sekolah), dan kesenian, dari suatu generasi kepada generasi berikutnya. (Dictionary of Cultural Literacy).

Beberapa Konsep Yang Berkaitan Dengan Kebudayaan

Untuk memahami kebudayaan secara keselurahan maka ada baiknya saya mengemukakan beberapa konsep yang berkaitan dengan kebudayaan, beberapa diantaranya selalu digunakan secara bergantian dalam membahas komunikasi antar budaya.
• Budaya Dominan
• Common culture
• Sub kultur
• Cultural lag
• Culture shock
• Kebudayaan tradisional
• Multikultural

APA ITU EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ANTARBUDAYA??
Yakni menciptakan komunikasi yang efektif melalui pemaknaan yang sama atas pesan yang dipertukarkan.
Secara umum, sebenarnya tujuan komunikasi antar budaya antara lain untuk menyatakan identitas sosial dan menjebatani perbedaan antar budaya melalui perolehan infomasi baru, pengalaman atas kekeliruan dalam komunikasi antar budaya sering membuat manusia makin berusaha mengubah kebiasaan berkomunikasi, paling tidak melalui pemahaman terhadap latar belakang budaya orang lain. Menurut Wiliam Howell (1982), setiap individu mempunyai tingkatan kesadaran dan kemampuan yang berbeda-beda dalam berkomunikasi antar budaya. Tingkat kesadaran dan kemampuan itu terdiri atas empat kemungkinan, yaitu :
1. Seseorang sadar bahwa dia tidakmampu memahami budaya orang lain.
2. Dia sadar bahwa dia mampu memahami budaya orang lain.
3. Dia tidak sadar bahwa dia mampu memahami budaya orang lain.
4. Dia tidak sadar bahwa dia tidak mampu menghadapi perbedaan antarbudaya, keadaan ini terjadi manakala seseorang sama sekali tidak menyadari bahwa sebenarnya dia tidak mampu menghadapi perilaku budaya orang lain.

Para ahli komunikasi antarbudaya mengemukakan berbagai konsep tentang effektivitas komunikasi antarbudaya, milsanya :
1. Komunikasi antarbudaya akan efektif kalau setiap orang yang terlibat dalam proses komunikasi mampu meletakkan dan memfugnsikan komunikasi di dalam suatu konteks kebudayaan tertentu.
2. Efektivitas komunikasi antarbudaya sangat ditentukan oleh sejauhman manusia meminimalkan kesalahpahaman atas pesan-pesan yang dipertukarkan oleh komunikator dan komunikan antarbudaya.
3. Salah satu studi yang pernah dilakukan Hammer (1987) menetapkan tiga tema sentral efektivitas komunikasi,

Berdasarkan konsep tersebut diatas maka uraian ini membahas suatu pendekatan umum yang menerangkan sejauh mana pengaruh factor-faktor pribadi atau gaya komunikasi individu mampu memberikan konstribusi atau bahkan memprediksi efektivitas komunikasi antarbudaya.

AKSIOMA EFEKTIVITAS KOMUNKASI ANTARBUDAYA
Dikatakan sebagai aksioma Karena konsep yang hendak dipahami itu selalu ada dalam perikehidupan manusia.

EFEKTIVITAS HUBUNGAN DAN KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA
Yang lebih penting adalah motivasi antarpirbadi yang ada di balik hubungan sosial itu sehingga mampu memberikan atribusi bagi pengembangan hubungan social dan kepuasaan hubungan antarpribadi.
Efektivitas komunikasi antarbudaya didahului oleh hubungan antarbudaya. Hubungan antarbudaya bukan terjadi sekilas tetapi terus menerus sehingga kualitas berubah dan mengalami kemajuan kearah kualitas hubungan yang baik dan semakin baik.

EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DAN IKLIM KOMUNIKASI YANG POSITIF
Iklim komunikasi yang positif akan mendukung fungsi komunikasi sedangkan iklim komunikasi yang negative akan menghambat fungsi komunikasi. Iklum komunikasi yang positif maupun negarif itu ditentukan oleh tiga factor yang positif maupun negative itu ditentukan oleh tiga factor berikut ini :

1. Faktor derajat kognitif
2. Perasaan positif, dan
3. Tindakan yang menunjukan kemampuan.

FAKTOR DERAJAT KOGNITIF
Komunikasi antarbudaya mengharuskan setiap pelakunya berusaha mendapatkan, mempertahankan dan mengembangkan aspek-aspek kognitif bersama.
Indentitas pribadi
Indentitas pribadi itu berasal dari pengalaman pribadi saya yang unik, sedangkan identitas social merupakan cirri khas kelompok budaya yang saya peroleh dari pengalaman bergaul dengan kelompok budaya saya.

Tindakan yang Menunjukkan Kemampuan
Dimensi terakhir dari iklim komunikasi yang positif adalah tindakan untuk menunjukkan kemampuan yang kita sebut tingkat perilaku.

Identitas Variabel Komunikasi Antarbudaya
Tiga komponen penting bagi pecinta kompetensi komunikator, yakni motivasi berkomunikasi antarbudaya, pengetahuan, yakni motivasi berkomunikasi antarbudaya, pengetahuan dan keterampilan berkomunikasi antarbuday.
Pesan kita bicara tentang pesan dalam komunikasi antar budaya yaitu pesan yang berisi maksud, pikiran, dan gagasan seorang komunikator. Pesan-pesan itu biasa berbentk verbal dan non verbal yang dapat dipahami bersama.
Media kita berbicara mengenai media antarbudaya, yang oleh komunikator dapat dilakukan melalui pemilihan media yang menghubungkan perbedaan dua atau lebih budaya. Media itu bisa merupakan pilihan bentuk komunikasi, cara dan kebiasaan berkomunikasi antarpribadi, antarkelompok, komunikasi public dan komunikasi massa.
Komunikan kita berbicara mengani komunikan, yakni sasaran komunikasi yang berbeda kebudayaan dengan komunikator.
Efek Kita berbicara tentang efek atau umpan balik komunikasi antarbudaya berarti berbicara tentang bentuk-bentuk dari dampak.


Keterampilan Komunikasi dan Manusia Terisolasi
Ada empat factor yang membentuk keterampilan berkomunikasi antarbudaya, yakni :
1. bagaimana mengubah diri menjadi lebih sadar tentang hakikat interaksi antarbudaya.
2. Bersikap toleran terhadap interaksi dan pesan-pesan yang seringkali bersikap mendua.
3. Bersikap Empati, dan
4. Kemampuan untuk mengurangi tingkat ketidakpastian dalam interaksi antarbudaya.

Variabel Gaya Pribadi
Komunikasi antarbudaya yang difungsional itu disebabkan Karena orang terlalu menampilkan self oriented yang berlebihan sehingga orang itu menjadi congkak, dan menunjukkan gagasan gaya pribadi berikut ini sering kali tampil dalam komunikasi antar pribadi.
Etniosentrisme
Etniosentrisme adalah suatu perasaan superior atau keunggulan dari suatu kelompk orang yang menganggap kelompok lain lebih interior dan kurang unggul.
Toleransi, Sikap Mendua dan Keluwesan
Komunikasi antarbudaya mengandung sifat mendua, yakni kebudayaan sendiri maupun kebudayaan orang lain.
Empati
Empati dimaksudkan agar anda mulai mengerti dan memahami orang lain “dari dalam”, dari kerangka piker (gagasa yang dia komunikasika), perasaan dan perbuatan (Rogers, 1983), Tindakan empati di awal komunikasi antarbudaya dapat dilakukan melalui kegiatan mendengar secara aktif dan akurat, demikian yang dikemukakan oleh Hammer (1989) Liliweri (1994).
Keterbukaan
Dengan keterbukaan bukan berarti bahwa setiap orang harus membuka diri seluas-luasnya, namun membuka kesempatan untuk sama-sama mengetahui informasi tentang diri maupun tentang lawan bicara.
Kompleksitas Kognitif
Kompleksitas Kognitif mengacu pada kemampuan pribadi untuk mengetahui, dan mengalami orang lain.
http://www.mediafire.com/?6vwoa4yk3m9vs2j