Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Kamis, 31 Mei 2012

MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB


TANGGUNG JAWAB MANUSIA SEBAGAI KHOLIFAH ALLAH
Tanggung jawab menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah, keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatu atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya.
Tanggung hawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
Seorang mahasiswa mempunya kewajiban belajar. Bila belajar, maka hal itu berarti ia telah memenuhi kewajibannya. Berarti pula ia telah bertanggung jawab atas kewajibannya. Sudah tentuk bagaimana kegiatan belajar mahasiswa, itulah kada pertanggung jawabannya. Bila pada ujian ia mendapat nilai A, B atau C itulah kada pertanggung jawabannya.
Bila si mahasiswa malas belajar, dan ia sadar akan hal itu. Tetapi ita tetap tidak mau belajar dengan alasan capek, segan, dan lain-lain. Padahal ia menghadapi ujian. Ini berarti bahwa si mahasiswa tidak memenuhi kewajibannya, berarti pula ia tidak bertanggung jawab.
Seseorang mau bertanggung jawab karena ada kesadaran atau keinsafan atau pengertian atas segala perbuatan dan akibatnya atas kepentingan pihak lain. Timbulnya tanggung jawab itu karena manusa itu hidup bermasyarakat dan hidup dalam lingkungan alam. Manusia tidak boleh berbuat semaunya terhadap manusia lain dan terhada alam lingkungannya. Manusia menciptakan keseimbangan, keserasian, keselarasan, antara sesama manusia dan antara manusia dan lingkungan.
Tanggung jawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian kehidupan manusia, bahwa setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab. Apabila ia tidak mau bertanggung jawab, maka ada pihak lain yang memaksakan tanggung jawab itu. Dengan demikian tanggung jawab itu dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi pihak yang berbuat dan dari sisi kepentingan pihak lain. Dari sisi si pembuat ia harus menyadari akibat perbuatannya itu, dengan demikian ia sendiri pula yang harus memulihkan ke dalam keadanaan baik. Dari sisi pihak lain, apabila si pembuat tidak mau bertanggung jawab, pihak lain yang akan memulihkan baik dengan cara individual maupun dengan cara kemasyarakatan.
Apabila dikaji, tanggung jawab itu adalah kewajiban atau beban yang harus dipikul atau dipenuhi sebagai akibat dari perbuatan pihak yang berbuat, atau sebagai akibat dari perbuatan pihak lain, atau sebagai pengabdian, pengorbanan pada pihak lain. Kewajiban atau beban itu ditujukan untuk kebaikan pihak yang berbuat sendiri atau pihak lain. Dengan keseimbangan, keserasian, keselarasan antara sesama manusia, antara manusia dan lingkungan, antara manusia dan Tuhan selalu dipelihara dengan baik.
Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya. Untuk memperoleh atau meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan, penyuluhan, keteladanan dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Keluarga adalah komponen terpenting dalam mendidik seorang anak, disinilah awal terbentuknya jatidiri seorang anak. Maka dari itu keluarga muslim merupakan asas dari seluruh elemen masyarakat. Pembinaan keluarga muslim berujud pendidikan Islam dan pelaksanaan utama dari pendidikan ini adalah bermula dari Ibu dan Ayah yang muslim. Jika orangtua mendidik anak dengan baik, dan dengan kuat juga menanamkan keimanan Islam di diri si anak, maka akan kuat juga lah keimanan dan ketaqwaan anaknya.
Semua orang dalam keluarga mempunyai tanggung jawab masing-masing yang akan dipertanyakan nanti di akhirat kelak. Seorang Ibu mempunyai tanggung jawab dalam mendidik anak sedari kecil. Karena Ibu adalah orang yang melahirkan, menyusui, dan lebih sering berinteraksi dengan anak, oleh karena itu seorang Ibu memegang andil yang cukup besar dalam pembentukan jatidiri seorang anak. Tapi bukan hanya Ibu saja yang bertanggung jawab dalam keluarga. Ayah adalah figur seorang pemimpin didalam keluarga, karena itu semua yang terjadi didalam keluarga Ayah lah yang bertanggung jawab. Contoh:
“Seorang anak yang bernama A menjadi pecandu narkoba dan pemabuk dilingkungannya, hal ini disebabkan  karena kurangnya pendidikan agama yang diberikan sewaktu ia masih kecil, karena sang Ibu terlalu sibuk mengurusi kepentingannya sendiri. “
Dalam kasus ini yang bertanggung jawab dihadapan ALLAH nanti adalah kedua orangtua. Ibu selaku orang (“pilar”) terpenting dalam mendidik anak, dan Ayah selaku pemimpin dalam sebuah keluarga. Jika dalam sebuah perusahaan majalah terdapat pegawai yang membuat suatu kesalahan, maka yang dimarahi oleh atasan/ bos dari perusahaan bukan hanya pegawai tersebut kan? Kepala redaksi juga akan terkena imbasnya, karena ia bertanggung jawab atas pekerjaan bawahannya. Yah begitulah kira-kira analogi kedudukan pertanggungjawaban seorang ayah terhadap keluarganya.
Seorang anak juga mempunyai tanggung jawab dalam keluarganya. Tanggung jawab seorang anak berupa menjaga nama baik keluarga, menjaga kepercayaan yang diberikan orangtua kepada si anak, dan kelak seorang anak akan menjadi pemimpin dalam keluarga mereka sendiri serta mempertanggungjawabkan keluarga mereka dihadapan ALLAH nanti.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :


أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَىبَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya : "Ketahuilah bahwa kalian semua adalah pemimpin, dan kalian akan ditanya tentang kepemimpinan kalian. Pemimpin di antara manusia dia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin dalam rumah tangga serta anak-anak suaminya dan dia akan ditanya tentang mereka. Budak/ pembantu adalah pemimpin dari harta tuannya dan dia akan ditanya tentangnya. Ketahuilah bahwa kamu sekalian adalah pemimpin dan kalian akan ditanya tentang tentang kepemimpinannya" (HR Bukhari dan Muslim)


MANUSIA DAN HARAPAN


MANUSIA DAN HARAPAN
Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia yang tanpa harapan, berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya.

Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan masing-masing, Misalnya, Budi yang hanya mampu membeli sepeda, biasanya tidak mempunyai harapan untuk membeli mobil. Seorang yang mempunyai harapan yang berlebihan tentu menjadi buah tertawaan orang banyak, atau orang itu seperti peribahasa “Si pungguk merindukan bulan”

Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan, misalnya Rafiq mengharapkan nilai A dalam ujian yang akan datang, tetapi tidak ada usaha, tidak pernah hadir kuliah. Ia menghadapi ujian dengan santai. Bagaimana Rafiq memperoleh nilai A. luluspun mungkin tidak.
Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agar harapan terwujud, maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh. Manusia wajib selalu berdoa. Karena usaha dan doa merupakan sarana terkabulnya harapan.

Harapan berasal dan kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi; sehingga harapan berarti sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Dengan demikian harapan menyangkut masa depan.Jadi untuk mewujudkan harapan itu harus disertai dengan usaha yang sesuai dengan apa yang diharapkan Bila dibandingkan dengan cita-cita , maka harapan mengandung pengertian tidak terlalu muluk: sedangkan cita-cita pada umumnya perlu setinggi bintang. Antar harapan dan cita-cita terdapat persamaam yaitu :
• keduanya menyangkut masa depan karena belum terwujud
• pada umumnya dengan cita-cita maupun harapan orang menginginkan hal yang lebih baik atau meningkat.

PERSAMAAN HARAPAN DAN CITA-CITA
Harapan berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi; sehingga harapan berarti sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Dengan demikian harapan menyangkut masa depan.

Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia yang tanpa harapan, berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya. Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan masing-masing. Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan. Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agar harapan terwujud, maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh. Manusia wajib selalu berdoa. Karena usaha dan doa merupakan sarana terkabulnya harapan.

Cita-cita merupakan Impian yang disertai dengan tindakan dan juga di berikan batas waktu. Jadi kalau kita bermimpi untuk menjadi netpreneur yang sukses, ya… harus di sertai tindakan jangan cuma berandai-andai saja. Serta jangan lupa di berikan target waktu sehingga kita punya timeline kapan hal tersebut kita inginkan terealiasasi.

Dari kecil kita pasti dinasehati oleh orangtua, guru ataupun buku untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit. Semua itu memang benar karena dengan adanya cita-cita atau impian dalam hidup kita akan membuat kita semangat dan bekerja keras untuk menggapai kehidupan yang lebih baik di dunia.
Cita-cita yang baik adalah cita-cita yang dapat dicapai melalui kerja keras, kreativitas, inovasi, dukungan orang lain dan sebagainya. Khayalan hasil melamun cenderung tidak logis dan bersifat mubazir karena banyak waktu yang terbuang untuk menghayal yang tidak-tidak.

Dalam bercita-cita pun sebaiknya jangan terlalu mendetail dan fanatik karena kita bisa dibuat stres dan depresi jika tidak tercapai. Contoh adalah seseorang yang punya cita-cita jadi dokter. Ketika dia tidak masuk jurusan ipa dia stress, lalu gagal snmptn / spmb kedokteran dia stress, dan seterusnya.
Tidak semua orang bisa menentukan cita-cita. Jika tidak bisa menentukan cita-cita, maka bercita-citalah untuk menjadi orang yang berguna dan dicintai orang banyak dengan hidup yang berkecukupan. Untuk mendapatkan motivasi dalam mengejar cita-cita kita bisa mempelajari kisah sukses orang lain atau membaca atau melihat film motivasi hidup seperti laskar pelangi.

Bila dibandingkan dengan cita-cita, maka harapan mengandung pengertian tidak terlalu muluk, sedangkan cita-cita pada umumnya perlu setinggi bintang. Antara harapan dan cita-cita terdapat persamaan yaitu: keduanya menyangkut masa depan karena belum terwujud, pada umumnya dengan cita-cita maupun harapan orang menginginkan hal yang lebih baik ataumeningkat.

PENYEBAB MANUSIA MEMPUNYAI HARAPAN
Menurut kodratnya manusia itu adalah mahluk sosial. Setiap lahir ke dunia langusung disambut dalam suatu pergaulan hidup, yakni di tengah suatu keluarga atau anggota masyarakat lainnya. Tidak ada satu manusiapun yang luput dari pergaulan hidup. Ditengah – tengah manusia lain itulah, seseorang dapat hidup dan berkembang baik fisik/jasmani maupun mental/ spiritualnya. Ada dua hal yang mendorong orang hidup bergaul dengan manusia lain, yakni dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup.

• Dorongan kodrat
Kodrat ialah sifat, keadaan, atau pcmbawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Tuhan. Misalnya menangis, bergembira, berpikir, berjalan, berkata, mempunyai keturunan dan sebagainya. Setiap manusia mempunyai kemampuan untuk itu semua.

Dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai keinginan atau harapan, misalnya menangis, tertawa, bergembira, dan scbagainya. Seperti halnya orang yang menonton Pertunjukan lawak, mereka ingin tertawa, pelawak juga mengharapkan agar penonton tertawa terbahak-bahak. Apabila penonton tidak tertawa, harapan kedua belah pihak gagal, justru sedihlah mereka.

Kodrat juga terdapat pada binatang dan tumbuh-tumbuhan, karena binatang dan tumbuhan perlu makan, berkembang biak dan mati. Yang mirip dengan kodrat manusia ialah kodrat binatang, walau bagaimanapun juga besar sekali perbedaannya. Perbedaan antara kedua mahluk itu, ialah bahwa manusia memiliki budi dan kehendak. Budi ialah akal, kemampuan untuk memilih. Kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan, sebab bila orang akan memilih, ia harus mengetahui lebih dahulu barang yang dipilihnya. Dcngan budinya manusia dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang
salah, dan dengan kehendaknya manusia dapat memilih. Dalam diri manusia masing-masing sudah terjelma sifat, kodrat pembawaan dan kemampuan untuk hidup bergaul, hidup bermasyarakat atau hidup bcrsama dengan manusia lain. Dengan kodrat ini, maka manusia mempunyai harapan.

• Dorongan kebutuhan hidup
Sudah kodrat pula bahwa manusia mempunyai bermacam-macam kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup itu pada garis besamya dapat dibedakan atas : kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani
Kebutuhan jasmaniah misalnya ; makan, minum, pakaian, rumah. (sandang, pangan,
dan papan), ketenangan, hiburan, dan keberhasilan.

Untuk memenuhi semua kebutuhan itu manusia bekerja sama dengan manusia lain.
Hal ini disebabkan, kemampuan manusia sangat terbatas, baik kemampuan fisik/jasmaniah
maupun kemampuan berpikimya.

Dengan adanya dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia
mempunyai harapan. Pada hakekatnya harapan itu adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya.
Menurut Abraham Maslow sesuai dengan kodratnya harapan manusia atau kebutuhan
manusia itu ialah :
a) kelangsungan hidup (survival)
b) keamanan ( safety )
c) hak dan kewajiban mencintai dan dicintai (be loving and love)
d) diakui lingkungan (status)
e) perwujudan cita-cita (self actualization)

Sabtu, 12 Mei 2012

Menggapai Cita-cita Mu Setinggi Langit


Setiap manusia mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati. Karena itu menentukan masa depan seseorang. Untuk itu perlu dijelaskan pula apa arti pandangan hidup. Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasaikan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya.

Pandangan hidup banyak sekali macamnya dan ragamnya. Akan tetapi pandangan hidup dapat diklasifikasikan berdasaikan asalnya yaitu terdiri dari 3 macam :

(A) Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya
(B) Pandangan hidup yang berupa ideologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norms yang terdapat    pada negara tersebut.
(C) Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.
Sumber : dwiariyanilylaku.blogspot.com/…/manusia-dan-pandangan-hidup.html

Macam-macam sumber pandangan hidup

Pandangan hidup banyak sekali macamnya dan ragamnya. Akan tetapi pandangan hidup dapat diklasifikasikan berdasaikan asalnya yaitu terdiri dari 3 macam :
(A) Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya
(B) Pandangan hidup yang berupa ideologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norms yang terdapat pada negara tersebut.
(C) Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.
Ideologi adalah tidak sama dengan aqidah. Ideologi adalah hasil pemikiran manusia yang dituangkan dalam bentuk konsep bersistem yang menjadi dasar atau asas teori yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup manusia. Sedangkan aqidah adalah bukan lahir dari hasil pemikiran manusia, melainkan lahir karena Islam yang diturunkan oleh Allah SWT. Kemudian kalau ideologi dan aqidah dihubungkan dengan ”aali Muhammad“ atau ”ahli keluarga Muhammad”, maka anggota keluarga Rasulullah saw adalah semua umat Islam yang beraqidah Islam dan semua umat Islam yang memiliki ideologi Islam, bukan hanya sekedar keluarga yang diikat oleh tali perkawinan dan darah keturunan Rasulullah saw saja.

Pandangan hidup Islam dicanangkan oleh Nabi di Makkah melalui penyampaian wahyu Allah dengan cara-cara yang khas. Setiap kali Nabi menerima wahyu yang berupa ayat-ayat al-Qur’an, beliau menjelaskan dan menyebarkannya kemasyarakat. Cara-cara seperti ini tidak sama dengan cara-cara yang ada pada scientific worldview,dan oleh sebab itu Prof.Alparslan menamakan worldview Islam sebaai ‘quasi-scientific worldview’. Penjelasan lebih detail tentang pandangan hidup Islam akan dilakukan kemudian.

Proses pembentukan pandangan hidup melalui penyebaran ilmu pengetahuan diatas akan lebih jelas lagi jika kita lihat dari proses pembentukan elemen-elemen pokok yang merupakan bagian dari struktur pandangan hidup itu serta fungsi didalamnya. Seperti yang dijelaskan diatas bahwa pandangan hidup dibentuk oleh jaringan berfikir (mental network) yang berupa keseluruhan yang saling berhubugan (architectonic whole).
Namun, ia tidak merepresentasikan suatu totalitas konsep dalam pikiran kita. Ketika akal seseorang menerima pengetahuan terjadi proses seleksi yang alami, dimana pengetahuan tertentu diterima dan pengetahuan yang lain ditolak. Pengetahuan yang diterima oleh akal kita akan menjadi bagian dari struktur worldview yang dimilikinya.

Meskipun pengetahuan yang diterima oleh akal manusia itu bersifat acak, namun ia akan terstruktur dengan sendirinya dalam pikiran manusia. Dari konsep-konsep yang ada dalam diri manusia maka kita dapat menyusun kedalam beberapa struktur konsep. Professor Alparslan mengkategorikan struktur pandangan hidup menjadi lima:

1) Struktur tentang kehidupan,
2) Struktur tentang dunia,
3) Struktur tentang manusia,
4) Struktur tentang nilai dan
5) strutktur tentang pengetahuan.

penderitaan yang tak termakan zaman


Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan manusia bertingkat-tingkat, ada yang berat dan ada juga yang ringan. Namun, peranan individu juga menentukan berat-tidaknya Intensitas penderitaan. Suatu perristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang, belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.
Akibat penderitaan yang bermacam-macam. Ada yang mendapat hikmah besar dari suatu penderitaan, ada pula yang menyebabkan kegagalan dan kegelapan dalam hidupnya. Oleh karena itu, penderitaan belum tentu tidak bermanfaat. Penderitaan juga dapat ‘menular’ dari seseorang kepada orang lain, apalagi kalau yang ditulari itu masih sanak saudara.
Mengenai penderitaan yang dapat memberikan hikmah, contohnya jika seseorang telah berusaha melakukan yang terbaik namun akhirnya bernasib sial dan menjadi miskin. Selama itu dia terus dicobai dengan segala beban hidup, namun dengan keteguhannya dapat berbalik menjadi sukses atas kerja kerasnya.
Masih banyak contoh lainnya yang menunjukkan bahwa penderitaan tidak selamanya berpengaruh negatif dan merugikan, tetapi dapat merupakan energi pendorong untuk menciptakan manusia-manusia besar.
Tujuan manusia yang paling populer adalah kenikmatan, sedangkan penderitaan adalah sesuatu yang selalu dihindari oleh manusia. Oleh karena itu, penderitaan harus dibedakan dengan kenikmatan, dan penderitaan itu sendiri sifatnya ada yang lama dan ada yang sementara. Hal ini berhubungan dengan penyebabnya. Macam-macam penderitaan menurut penyebabnya, antara lain: penderitaan karena alasan fiasik, seperti bencana alam, penyakit dan kematian; penderitaan karena alasan moral, seperti kekecewaan dalam hidup, matinya seorang sahabat, kebencian orang lain, dan seterusnya.Semua ini menyangkut kehidupan duniawi dan tidak mungkin disingkirkan dari dunia dan dari kehidupan manusia.
Penderitaan dan kenikmatan muncul karena alasan “saya suka itu” atau “sesuatu itu menyakitkan”. Kenikmatan dirasakan apabila yang dirasakan sudah didapat, dan penderitaan dirasakan apabila sesuatu yang menyakitkan menimpa dirinya. Aliran yang ingin secara mutlak menghindari penderitaan adalah hedonisme, yaitu suatu pandangan bahwa kenikmatan itu merupakan tujuan satu-satunya dari kegiatan manusia, dan kunci menuju hidup baik.
Kritik terhadap hedonisme ialah bahwa tidak semua tindakan manusia hedonistis, bahkan banyak orang yang tampaknya merasa bersalah atas kenikmatan-kenikmatan mereka. Dan hal ini menyebabkan mereka mengalami penderitaan. Pandangan Hedonis psikologis ialah bahwa semua manusia dimotivasi oleh pengejaran kenikmatan dan penghindaran penderitaan. Mengejar kenikmatan sebenarnya tidak jelas, sebab ada kalanya orang menderita dalam rangka latihan-latihan atau menyertai apa yang ingin dicapai atau dikejarnya. Puncak kehidupan etika bukan pada kenikmatan, melainkan pada kebahagiaan. Kenikmatan bukan tujuan akhir, melainkan hanya “pelengkap” tindakan.

Penderitaan dan Noda Dosa pada Hati Manusia.
Penderitaan juga dapat timbul akibat noda dosa pada hati manusia (Al-Ghazali, abad ke 11). Menurut Al-Ghazali dalam kitabnya Ihyaa’ Ulumudin, orang yang suka iri hati, hasad, dengki akan menderita hukuman lahir-batin, akan merasa tidak puas dan tidak kenal berterima kasih. Padahal dunia tidak berkekurangan untuk orang-orang di segala zaman. Allah SWT telah memberi ilmu dan kekayaan atau kekuasaan-Nya, karena itu penderitaan-penderitaan lahir ataupun batin akan selalu menimpa orang-orang yang mempunyai sifat iri hati, hasad, dengki selama hidupnya sampai akhir kelak.
Untuk mengobati hati yang menderita ini, sebelumnya perlu diketahui tanda- tanda hati yang sedang gelisah (hati yang sakit). Perlu diketahui bahwa setiap anggota badan diciptakan untuk melakukan suatu pekerjaan. Apabila hati sakit maka ia tidak dapat melakukan pekerjaan dengan sempurna ia kacau dan gelisah. Ciri hati yang tidak dapat melakukan pekerjaan ialah apabila ia tidak dapat berilmu, berhikmah, bermakrifat, mencintai Allah dengan menyembah-Nya, merasa erat dan nikmat mengingat-Nya.
Sehubungan dengan pernyataan ciri-ciri yang menderita, Allah berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia selain hanya untuk menyembah kepada-Ku”. (QS. 51: 56)
“Barangsiapa merasa mengerti sesuatu, tetapi tidak mengenal Allah, sesungguhnya orang tersebut tidak mengerti apa-apa. Barangsiapa mempunyai sesuatu yang dicintainya lebih daripada mencintai Allah, maka sesungguhnya hatinya sakit. “katakanlah, hai Muhammad, apabila orang tuamu, anakmu, saudaramu, istrimu, handai tolanmu, harta bendamu yang engkau tumpuk dalam simpanan serta barang dagangan yang yang engkau khawatirkan ruginya dan rumah tempat tinggal yang kamu senangi itu lebih kamu cinta daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjuang di jalan Allah, maka tunggulah sampai perintah Allah datang”. (QS. 9: 24).
Hal lain yang menimbulkan derita terhadap seseorang adalah merasakan suatu keinginan atau dorongan yang tidak dapat diterima atau menimbulkan keresahan, gelisah, atau derita. Maka ia pun berusaha menjauhkan diri dari lingkup kesadaran atau perasaannya. Akhirnya, keinginan atau dorongan itu tertahan dalam alam bawah sadar. Namun, sering orang itu mengekspresikan keinginan atau dorongan itu secara tidak sadar atau dengan ucapan yang keliru. Atau, apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?
“Dan kalau Kami mengkhendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu, sehingga kamu dapat benar-benar mengenal mereka dengan tanda-tandanya, tetapi kamu mengenal mereka dari bicara mereka, dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu”. (QS. 47: 29-30).
Coba kita lihat pengalaman penderitaan yang kita alami sebagai satu bangsa karena bencana alam di Aceh. Belakangan ini Indonesia dikenal sebagai bangsa yang bersekutu dan persaudaraannya tercabik-cabik. Bangsa Indonesia yang satu mengelompok dalam sentimen agama dan suku yang sangat tinggi. Orang Islam menganggap orang Kristen sebagai ancaman. Mereka saling memandang dengan penuh curiga, yang satu menganggap yang lain sebagai kafir atau melakukan syirik.
Pengelompokan manusia Indonesia menurut agama : Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, orang kafir dan orang bertaqwa hilang dengan begitu saja. Mereka yang berbeda-beda ini justru bergandengan tangan menanggulangi dan menghadapi penderitaan. Ini sungguh satu mujizat. Ya, kalau dalam keadaan suka cita kita cenderung terbelah-belah, maka dalam derita dan duka kita kembali menjadi satu.
Pengalaman tidak sendiri dalam penderitaan tidak merupakan satu yang bersifat horizontal belaka. Yang tidak kalah penting untuk kita ketahui, juga di dalam minggu-minggu pra paskah ini, adalah kenyataan berikut. Allah juga ada bersama kita. Ia menjadi satu dengan kita yang menderita. Allah ternyata ikut ambil bagian dalam penderitaan manusia. Ia yang kudus dan agung berkenan menyatukan nasibNya dengan nasib manusia.
Fakta ini kita alami di dalam Kristus. Paulus menulis: "Yesus Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahan sampai mati di kayu salib" (Fil 2:5-9)
Penderitaan memang menyakitkan dan menimbulkan luka. Tetapi manusia tidak pernah sendiri menghadapinya. Selalu saja ada teman dan sahabat yang ikut berbela rasa dengan kita memikul duka cita itu. Bahkan Tuhan juga menjadi sahabat kita. Yesus kawan yang sejati, bagi kita yang lemah, tiap hal boleh dibawa dalam doa padaNya. Inilah penghiburan sejati bagi manusia. Ini sumber kekuatan kita menghadapi penderitaan dengan percaya bahwa penderitaan itu bersifat sementara saja. Habis gelap akan terbit terang. Penderitaan ternyata membangkitkan pengharapan.

Kamis, 10 Mei 2012

MENANTI KEADILAN YANG BERKEADILAN


Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa "Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran" [1]. Tapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai: "Kita tidak hidup di dunia yang adil" [2]. Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas. keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya

َالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ
Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). QS. Al-Rahman [55]: 7
وKetika membahas ayat di atas, para ahli tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksud oleh ayat itu adalah keadaan yang tercipta secara seimbang. Segala obyek dan partikelnya telah diletakkan dalam ukuran yang semestinya. Tiap-tiap divisi diukur secara sangat cermat.
Dalam suatu hadis, Nabi Saw bersabda: “Dengan keadilan, tegaklah langit dan bumi.” (Tafsir Al-Shafi, tentang QS. Al-Rahman [55]: 7)
Lawan keadilan, dalam pengertian ini, adalah “ketidakseimbangan”, bukan “kezaliman”.Banyak orang yang berupaya menjawab semua kemusykilan dalam keadilan Ilahi dari perspektif keseimbangan dan ketidakseimbangan alam, sebagai ganti dari perspektif keadailan dan kezaliman. Merteka puas dan berusaha untuk puas dengan pandangan bahwa semua diskriminasi yang terjadi, baik disertai alasan ataupun tidak, dan semua kejahatan yang ada, sebenarnya merupakan keharusan dan keniscayaan sistem alam yang menyeluruh. Tidak diragukan lagi bahwa eksistensi obyek tertentu merupakan keniscayaan bagi keseimbangan alam secara historis. Tetapi, solusi ini tidak menjawab keberatan seputar terjadinya kezaliman.

Kajian tentang keadilan dalam pengertian “keseimbangan”, sebagai lawan ketidakseimbangan, akan muncul jika kita melihat sistem alam sebagai keseluruhan. Sedangkan, kajian tentang keadilan dalam pengertian sebagai lawan kezaliman dan yang terjadi ketika kita melihat tiap-tiap individu secara terpisah-pisah adalah pembahasan yang lain lagi. Keadlian dalam pemgertian pertama menjadikan “maslahat umum” sebagai persoalan. Adapun keadilan dalam pengertian kedua menjadikan “hak individu” sebagai pokok persoalan. Karenanya, orang yang mengajukan keberatan akan kembali mengatakan, “Saya tidak menolak prinsip keseimbangan di seluruh alam, tapi saya mengatakan bahwa pemeliharaan terhadap keseibangan ini, mau tidak mau, akan mengakibatkan munculnya pengutamaan tanpa dasar (tarjih bila murajjih). Semua pemgutamaan ini, dari sudut pandang keseluruhan dapat diterima dan relevan. Tapi, dari sudut pandang individual, ia tetap tidak dapat diterima dan tidak relevan.”



KEADILAN DALAM  PANDANGAN ETIKA

Para ahli etika berpendapat bahawa kebaikan (al-jud) lebih mulia dari keadilan. Sebaliknya Imam Ali AS dengan jelas mengatakan dengan hujah-hujah tertentu bahawa keadilan lebih tinggi dari kebaikan. Kedua, pandangan ini muncul dari dua arah pandangan yang berbeza. Sekiranya kita memandang masalah dari segi pandangan etika individual, maka kebaikan atau itsar itu berkedudukan lebih tinggi dari keadilan. Dikatakan demikian, kerana seseorang yang adil itu dipandang adil kerana telah sampai batas kesempurnaan insani seperti tidak melanggar hak-hak orang lain, tidak merampas harta orang lain dan tidak mencari nama di mata manusia. Orang yang berbuat baik dan itsar di samping tidak tamak terhadap harta seseorang, juga berbuat baik kepada orang-orang lain dengan harta dan kesusahan. Orang ini tidak mengambil hak orang lain tetapi ia memberikan haknya kepada orang lain. Ia tidak melukai seseorang yang luka dan sakit, ia juga tidak menjenguk orang-orang yang terluka dan sakit di medan pertempuran, di rumah-rumah sakit, di rumah-rumah orang, dan memberikan ubat-ubatan, membungkus lukanya dan merawatnya tanpa mengharapkan balasan. Ia bukan sahaja tidak menumpahkan darah orang lain tetapi juga ia bersedia untuk menumpahkan darahnya sendiri sebagai satu khidmat kepada kebaikan sosial.
Dengan demikian, dari segi sifat-sifat etika individu, kebaikan itu lebih tinggi daripada keadilan atau mungkin sekali mempunyai persamaan.

Jumat, 27 April 2012

FILSAFAT KEINDAHAN DAN HUBUNGANYA DENGAN MANUSIA


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia pada umumnya senang pada sesuatu yang indah, baik terhadap keindahan alam maupun terhadap keindahan seni. Keindahan alam adalah keharmonisan yang menakjubkan dari hokum-hukum alam, yang dibukakan untuk mereka yang mempunyai kemampuan untuk menerimanya. Sedangkan keindahan seni adalah keindahan buatan atau hasil ciptaan manusia, yaitu buatan seseorang (seniman) yang mempunyai bakat untuk menciptakan sesuatu yang indah.
Rata-rata manusia apabila melihat sesuatu yang indah pasti akan terpesona. Memang benar, tidak semua orang memiliki kepekaan terhadap suatu keindahan. Akan tetapi pada umumnya manusia mempunyai perasaan keindahan.
Keindahan tentang seni telah lama menarik perhatian para ahli atau filosof, sejak zaman plato sampai zaman modern sekarang ini. Teori tentang keindahan seni ini muncul karena mereka menganggap bahwa seni adalah pengetahuan perspektif perasaan yang khusus. Keindahan seni ini juga telah memberikan warna tersendiri dalam sejarah peradaban manusia, oleh karena itu dalam makalah ini akan kami bahas tentang pengertian keindahan, sejarah perkembangan serta hubungan antara manusia dengan keindahan.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian keindahan?
2. Bagaimana sejarah perkembangan Filsafat Keindahan?
3. Bagaimana hubungan manusia dan keindahan?
1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian keindahan.
2. Untuk mengetahui sejarah perkembangan Filsafat Keindahan.
3. Untuk mengetahui hubungan manusia dan keindahan.




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Keindahan
Keindahan merupakan suatu rasa senang seorang yang sedang melihat suatu yang indah. Ada banyak batasan tentang keindahan yang sampai sekarang belum ada kata sepakat tentang definisi keindahan yang obyektif. Mengenai batasan keindahan pada umumnya menurut HabibMustopo dapat digolongkan menjadi 2 kelompok, yaitu:
a. Definisi-definisi yang bertumpu pada obyek (keindahan yang obyektif)
b. Definisi-definisi yang bertumpu pada subyek (keindahan yang subyektif)
Atas dasar kedua pokok penilaian itu, keindahan dapat ditinjau dari makna yang obyektif dan juga dari segi subyektif. Yang dimaksud keindahan obyektif adalah keindahan yang memang pada obyeknya, yang diharuskan menerima sebagaimana mestinya. Sedangkan yang disebut keindahan subyektif adalah keindahan yang biasanya ditinjau dari segi subyek yang diharuskan menghayatinya.
Dalam hal ini keindahan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan rasa senang pada diri si penghayat tanpa diiringi keinginan-keinginan terhadap segala sesuatu yang praktis untuk kebutuhan-kebutuhan pribadi.
Jadi keindahan itu adalah kesatuan hubungan-hubungan formal daripada pengamatan yang dapat menimbulkan rasa senang. Atau keindahan itu merangsang timbulnya rasa senang tanpa pamrih pada subyek yang melihatnya, dan bertumpu kepada cirri-ciri yang terdapat pada obyek yang sesuai dengan rasa senang.]
Menurut gambar di atas, dapat disimpulkan bahwa keindahan itu melalui 4 proses, yakni: pertama, adanya obyek yang dapat dinikmati oleh subyek. Kedua, panca indera merupakan penangkapan gambaran obyek, ini tidak hanya dilakukan oleh mata akan tetapi bisa dilakukan semua indera. Ketiga, kemudian gambaran tersebut diproses dalam pikiran manusia. Keempat, jadilah rasa suka dan munculah keindahan.



Banyak batasan tentang keindahan yang telah diutarakan oleh para ahli, antara lain:
1. Menurut Leo Tolstoy (Rusia)
Dalam bahasa Rusia terdapat istilah yang serupa dengan keindahan yaitu “krasota”, artinya suatu yang mendatangkan rasa yang menyenangkan bagi yang melihat dengan mata. Bangsa Rusia tidak memiliki pengertian keindahan untuk music. Bagi bangsa Rusia yang indah hanya yang dapat dilihat mata.
2. Menurut Alexander Baumgarten (Jerman)
Keindahan itu dipandang sebagai keseluruhan yang merupakan susunan yang teratur daripada bagian-bagian, yang bagian-bagian itu erat hubungannya satu dengan yang lain, juga dengan keseluruhan.
3. Menurut Winchelman
Keindahan itu dapat terlepas sama sekali dari pada kebaikan.
4. Menurut Humo (Inggris)
Keindahan adalah suatu yang dapat mendatangkan rasa senang.
5. Menurut Hemsterhuis (Belanda)
Yang indah adalah yang paling banyak mendatangkan rasa senang dan itu adalah yang dalam waktu sesingkat-singkatnya paling banyak memberikan pengamatan-pengamatan yang menyenangkan itu.
6. Menurut Emnanuel Kant
Meninjau keindahan dari 2 segi, pertama dari segi arti yang subyektif dan kedua dari segi arti yang obyektif.
a. Subyektif
Keindahan adalah sesuatu yang tanpa direnungkan dan tanpa sangkut paut dengan kegunaan praktis, tetapi mendatangkan rasa senang pada si penghayat.
b. Obyektif
Keserasian dari suatu obyek terhadap tujuan yang dikandungnya, sejauh obyek ini tidak ditinjau dari segi gunanya.
7. Menurut Al-Ghazali
Keindahan suatu benda terletak di dalam perwujudan dari kesempurnaan, yang dapat dikenali kembali dan sesuai dengan sifat benda itu. Disamping lima rasa(panca indera) untuk mengungkapkan keindahan di atas, Al Ghozali juga menambahkan rasa ke enam, yang disebutnya dengan jiwa(ruh, yang disebut juga sebagai spirit, jantung, pemikiran, cahaya), yang dapat merasakan keindahan dalam dunia yang lebih dalam yaitu nilai-nilai spiritual, moral dan agama.
2.2 Sejarah Perkembangan Filsafat Keindahan
Untuk mempermudah pembagian sejarah perkembangan filsafat keindahan ini, maka akan dibagi menjadi 3 periode, yakni zaman yunani kuno, zaman tiga agama monoethis, zaman modern. Adapun keterangannya sebagai berikut:
1. Zaman Yunani Kuno
Plato adalah filsuf pertama di dunia Barat yang dalam seluruh karyanya mengemukakan pandangan yang meliputi hampir semua pokok estetika, yang dibahas sepanjang sejarah filsafat sampai dewasa ini. Pandangan Plato tentang keindahan dapat dibagi menjadi dua, yang satu mengingatkan kita kepada seluruh filsafatnya tentang dunia ide, sedangkan yang lain nampaknya lebih membatasi diri pada dunia yang nyata ini.
Pandangan yang pertama, yang indah adalah benda material, umpamanya tubuh manusia yang tampak pada saya. Selanjutnya saya melihat beberapa seseorang seperti itu, pengalaman keindahan akan meningkat. Ide merupakan sumber segala keindahan.
Pandangan kedua, bahwa yang indah dan sumber segala keindaha adalah yang paling sederhana, umpamanya nada yang sederhana, warna yang sederhana. Yang dimaksud dengan sederhana ialah bentuk dan ukuran yang tidak dapat diberi batasan lebih lanjut berdasarkan sesuatu yang lebih sederhana lagi.
Sebagai murid Plato, aristoteles mengemukakan beberapa pandangan yang mirip dengan pandangan gurunya, tetapi dari sudut pandang yang sangat berbeda. Sudut pandang yang berbeda ini timbul karena Aristoteles menolak ide-ide Plato sebagai sumber pengetahuan dan adanya pengetahuan. Dia berpendapat bahwa keindahan menyangkut keseimbangan dan keteraturan ukuran yakni material. Pandangan ini menurut Aristoteles berlaku untuk benda-benda alam maupun untuk karya seni buatan manusia.
2. zaman tiga agama monotheis
Tiga agama monotheis, Yahudi,Kristiani, dan Islam, yang ketiga-tiganya berasal dari wilayah yang sekarang diberi nama Timur Tengah , sejak awal menekankan keluhuran Allah yang Maha Agung dan tak terjangkau. Sebagai implikasi dari penekanan ini, ketiganya dengan tegas menolak penyembahan berhala dalam bentuk apapun.
Kendati kesamaan itu cukup mencolok, ada perbedaan yang juga tidak sedikit, yang dapat diterangkan dalam konteks peristiwa historis. Ciri-ciri kesamaan maupun perbedaan juga menampakkan diri dalam sikap penghargaan terhadap seni dan karya seni. Dan secara lebih umum tampak dalam sikap terhadap keindahan.
Dalam tradisi bangsa yahudi, baik Abraham maupun Musa dan par5a nabi sesudahnya dipandang sebagai utusan Tuhan yang menjunjung tinggi iman. Bangsa Yahudi menghancurkan segala berhala. Dalam kerangka itu semua patung dan gambar manusia maupun hewan dilarang demi mempertahankan kemurnian iman. Salah satu akibat kenyataan di atas ialah bahwa seni rupa tidak banyak berkembang walaupun ada perhiasan tempat-tempat suci, kaligrafi, keindahan pakaian, selain itu, tentu ada mazmur, music, nyanyian dan tarian.
Di sisi lain, umat kristiani mengimplikasikan kegiatan ibadahnya tidah hanya berdoa akan tetapi melalui perantara gambar dan patung, sehingga pada masa ini banyak pembuat patung, lukisan tentang kehidupan mereka. Serta banyak hiasan dinding yang ada pada gereja dan masih banyak seni lainnya.
Sedangkan Islam juga melarang adanya patung dan gambar, walaupun demikian, pada masa ini kegiatan kesenian mengalami kemajuan yang sangat pesat. Seperti dalam bidang arsitektur masjid, istana serta benteng pertahanan. Selain itu, seni music dan tari juga berkembang pesat.
3. zaman modern
Pada zaman modern ini, filsafat dari aristoteles dan tokoh yunani lain mulai digali kembali. Yang kemudian dikembangkan menjadi suatu peradaban dengan keindahan. Mulai bermunculan para ahli di bidang kesenian, mulai seni musik sampai seni arsitektur. Pada zaman ini para seniman dan masyarakat mulai kritis terhadap suatu seni. Mereka dapat membedakan secara terperinci seni itu baik atau tidak.
2.3 Manusia dan Keindahan
Seperti yang dijelaskan diatas, bahwa manusia akan merasakan keindahan jika menyukai atau menyenangi sesuatu. Akan tetapi, hal ini bisa berdampak baik dan buruk karena tidak bisa ditebak apa yang manusia sukai. Manusia pada hakikatnya menyukai kebaikan akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa manusia juga menyukai keburukan yang termasuk perilaku menyimpang.
Dari uraian diatas maka keindahan dapat dibagi menjadi 2, yakni:
1. keindahan yang berdasarkan pada kebaikan,
keindahan yang berdasarkan kebaikan ini akan menghasilkan sifat yang lebih lanjut yaitu cinta kasih, karena rasa suka yang terus menerus akan menjadi cinta terhadap sesuatu tersebut. Cinta kasih merupakan perasaan suka seseorang terhadap sesuatu, sehingga ia rela mengorbankan dirinya untuk kepentingan sesuatu tersebut. Dilihat dari obyeknya cinta kasih dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Cinta terhadap Allah
Merupakan cinta manusia terhadap sang khaliq (pencipta), dengan adanya rasa cinta ini manusia akan lebih taat dan beriman kepada Allah. Sehingga mereka akan cenderung beribadah dan meninggalkan sesuatu yang berbau duniawi.
b. Cinta terhadap Manusia
Merupakan suatu cinta antara manusia satu dengan yang lainnya. Cinta ini bisa berdasarkan karena adanya ikatan keluarga seperti: cinta orang tua terhadap anak, bisa juga berdasarkan kasih saying terhadap pasangan karena sudah menjadi kodrat manusia bahwa mereka diciptakan berpasang-pasangan. Cinta disini timbul karena adanya rasa senang dan kebiasaan sang pelaku, seperti contoh: cintanya suami dan istri.
c. Cinta terhadap alam
Cinta terhadap alam ini juga bisa dikatakan cinta terhadap dunia. Cinta ini timbul karena rasa senang seseorang ketika melihat suatu benda. Contohnya kecintaan manusia terhadap harta benda (uang, emas, perhiasan dll), cinta terhadap dunia ini dapat menyebabkan manusia akan melupakan Tuhan mereka karena pikiran mereka telah terpengaruhi akan kehidupan dunia.
Akan tetapi disisi lain cinta terhadap ala mini juga dapat mempertebal iman seseorang, seperti: saat kita melihat kekuasaan Allah di alam ini (keindahan laut, pegunungan dll) maka orang tersebut akan senantiasa mengingat Allah selaku pencipta semua itu.
2. keindahan yang berdasarkan pada keburukan
Keburukan atau kejahatan merupakan sesuatu yang akan merugikan untuk orang lain, walaupun hal ini sangat jarang terjadi karena pada hakekatnya menyukai akan keindahan dan kebaikan. Apabila hal ini terjadi maka akan menciptakan penderitaan dan kegelisahan.
Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sangsekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat berbentuk lahir atau batin, Kita ambil contoh, dictator jerman Adolf Hitler yang sangat menyukai peperangan dan membantai orang-orang yahudi, dia menganggap bahwa yang dilakukan itu benar karena sesuai dengan kesenangannya.
Sumber-sumber penderitaan antara lain: Hakekat Manusia, manusia pada hakikatnya adalah mahluk hidup yang memiliki kepribadian yang tersusun dari perpaduan dan saling hubungan dan pengaruh-mempengaruhi antara unsur-unsur jasmani dan rohani, dan karena itu pendritaan dapat pula terjadi pada tingkat jasmani maupun rohani. Di dalam jasmani manusia terdapat 2 unsur yang selalu berhubungan, yaitu otak dan panca indra.
Rohani yang sering disebut dengan istialah lain seperti jiwa , badan halus, merupakan unsur yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindra manusia. Rohani memiliki alat dan kemampuan yaitu: nafsu , perasaan, pikiran, kemauan.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. keindahan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan rasa senang pada diri si penghayat tanpa diiringi keinginan-keinginan terhadap segala sesuatu yang praktis untuk kebutuhan-kebutuhan pribadi.
2. sejarah perkembangan filsafat keindahan ini, maka akan dibagi menjadi 3 periode, yakni zaman yunani kuno, zaman tiga agama monoethis, zaman modern.
3. bahwa manusia akan merasakan keindahan jika menyukai atau menyenangi sesuatu. Akan tetapi, hal ini bisa berdampak baik dan buruk karena tidak bisa ditebak apa yang manusia sukai. Manusia pada hakikatnya menyukai kebaikan akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa manusia juga menyukai keburukan yang termasuk perilaku menyimpang.


Sabtu, 07 April 2012

KASIH SAYANG



islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang di dalamnya. Dari namanya saja, Islam sudah mengandung unsur kasih sayang. Islam yang merupakan mashdar dari aslama-yuslimu, memiliki arti keselamatan. Dalam Al Quran dan Sunnah banyak disebutkan tentang kasih sayang. Hal ini menunjukkan betapa kasih sayang memiliki peran penting dalam Islam dan sangat dianjurkan untuk diamalkan. Allah berfirman dalam Al Quran:
“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”(QS. At Taubah: 128)
 Dalam sebuah hadits juga disebutkan bahwa Rasulullah saw sendiri memerintahkan ummatnya untuk saling menebarkan kasih sayang, karena niscaya itu akan membuatnya disayang oleh seluruh penduduk bumi dan langit.
 Namun yang sangat disayangkan, bahwa kini konsep kasih sayang itu seakan hilang dan dengan suksesnya dijauhkan dari agama Islam. Padahal, Islam adalah satu-satunya agama yang sangat menjunjung tinggi kasih sayang terhadap sesama. Nabi Muhammad saw bersabda, “ Sesungguhnya kasih sayang itu cabang (penghubung) kepada Allah SWT. Barang siapa yang menyambungnya,maka Allah akan menyambung (kasih sayang-Nya) dengannya. Dan barang siapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutus (kasih sayang-Nya) dengannya.” (HR. Bukhori)
 Maka sudah seharusnya setiap muslim menunjukkan identitasnya dengan menempelkan symbol kasih sayang yang selalu diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Malu rasanya jika melihat aksi-aksi terror yang marak terjadi malah disandarkan kepada beberapa golongan dari umat muslim sendiri, bahkan salah satu bom diledakkan di masjid dan di tengah berkumpulnya umat Islam ketika melaksanakan shalat jumat!
 Jadi, sangatlah penting kembali menanamkan dan memupuk rasa kasih sayang dalam jiwa tiap muslim. Rasa kasih sayang hendaknya diniatkan karena Allah semata. Makna kasih sayang tidaklah berhujung, rasa kasih sayang adalah fithroh, karena pada dasarnya tiap manusia menyukai ketenangan dan kasih sayang dalam kehidupannya. Kalau tidak mengaplikasikan kasih sayang dalam kehidupannya, sudah pasti manusia tidak akan bisa berkembang.
 Mewujudkan kasih sayang bisa dimulai dari sendiri, lalu kemudian menyebarkannya kepada siapa dan apa saja yang ada di sekeliling kita, terutama kepada saudara sesama muslim. Hendaknya rasa kasih sayang itu senantiasa ditunjukkan. Rasulullah saw bersabda, "Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam hal kecintaan, kasih-sayang dan belas kasihan sesama mereka, laksana satu tubuh. Apabila sakit satu anggota dari tubuh tersebut maka akan menjalarlah kesakitan itu pada semua anggota tubuh itu dengan menimbulkan insomnia (tidak boleh tidur) dan demam (panas dingin)." (HR. Muslim)
 Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh dari konsep kasih sayang dalam Islam ini, yang disandarkan dari Rasulullah saw, yang kita ketahui dari ayat yang telah saya sebutkan di awal tulisan ini, bahwa beliau merupakan contoh sosok yang dikirim Allah swt yang memiliki sifat penyayang kepada orang mukmin. Dan ini bukan omong kosong semata.
 Diceritakan pada kejadian Fathul Makkah (pembukaan kota Makkah). Ketika Nabi dan para sahabatnya berhasil kembali membuka kota Makkah pada tanggal 10 ramadlan tahun 8 Hijriyah. Kejadian ini diabadikan dalam Al Quran dan disebut sebagai ‘fathan mubiinaa’ (kemenangan yang nyata). Ketika itu pasukan Islam dari Madinah masuk ke kota Makkah dengan damai dan tanpa peperangan, mereka diizinkan Allah untuk mendapatkan kemenangan besar yang selama ini ditunggu-tunggu. Ketika itu Rasulullah berpidato kepada ribuan tawanan perang.
“...wahai manusia, hari ini bukanlah hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka untuk kembali ke keluarga masing-masing…”
 Pasukan Islam mendengar pidato dari Rasulullah tersebut langsung terkejut. Bagaimana mungkin, perjuangan mereka selama ini, yang taruhannya adalah nyawa, juga diperhinakan cukup lama, namun ketika kemenangan sudah di genggaman tangan, Rasulullah malah membebaskan musuh. Tidak itu saja, bahkan Rasulullah memerintahkan untuk memberikan rampasan perang dan pelbagai harta, juga ribuan onta kepada para tawanan. Sementara itu pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa.
 Para pasukan Islam pun mengeluh dan mengajukan protes kepada Nabi. Lalu mereka dikumpulkan dan ditanya langsung oleh Nabi, “Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku?”
 Spontan mereka menjawab, “Sekian tahun, sekian tahun.”
 Kemudian Nabi melanjutkan pertanyaannya, “Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?” Dan Nabi mengakhiri pertanyaannya, “Kalian memilih mendapatkan unta atau memilih cintaku kepada kalian?”
 Para sahabat pun menangis karena cinta Rasulullah kepada mereka, cinta yang tidak bisa ditandingi oleh bumi dan langit sekalipun.
 Begitulah sobat, bukti nyata dari tingginya rasa kasih sayang Nabi dan penerapannya langsung yang bahkan ditujukan untuk musuhnya yang selama ini telah menghinakan beliau. Namun dari situ Nabi ingin menunjukkan kepada para musuh Islam, bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang. Dan dengan itu, Nabi berharap bisa mengenyuhkan mereka dan berbelok memeluk Islam melihat lembutnya Islam dan ummat muslim.
 Semoga kita terus dilimpahkan ma’unahNya untuk bisa menyebarkan kasih sayang pada siapa dan apa saja di sekeliling kita, tentu dengan niat lillaahi ta’laa. Amiin ya Rabbal’aalamiin.

Wallahu a’lam,
Semoga bermanfaat.